Curhat ajha…

April 13th, 2009 by adeknya-kakakku

Saat itu, adalah hari Jum’at… Hari dimana orang se-Bontang Raya ini deg-deg-an… Hari itu aku juga deg-deg-an… Gimana enggak, sampai Kamis malam, raport murid ku belum ada satupun yang jadi. Padahal tadi malam, aku denger teman-teman guru yang lain sampai pulang pukul 12 tengah malam… Aku enggak tau apanya yang salah…

Pagi hari setelah pembinaan, aku langsung menuju ke “ruanganku”, aku langsung buka komputer yang ada dihadapanku, dan ku buka file Raport Kelas III Abu Bakar… Setelah ku cek satu persatu, aku pun lalu mem-print raport tersebut… 30 menit, kelar… Alhamdulillah… Tapi tugasku belum selesai, aku bantu Wali Kelas III Umar dan III Utsman untuk nge-print raport mereka…

Aku tersadar dari semua tugasku ketika salah seorang teman guru yang lain, mengucapkan selamat kepadaku… Aku baru tahu bahwa namaku tercantum di koran harian setempat, bahwa aku diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil Kota Bontang dengan ditempatkan di Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Bontang Tahun 2008. Trus, aku cari HP ku untuk mengabarkan berita gembira itu kepada suamiku… Lho, HP ku kemana????

Ternyata, HP ku di tas…

Aku lihat, ternyata sudah ada 10 panggilan tak terjawab dan 5 pesan pendek diterima… Aku langsung telpon suami, ternyata malah dia bilang “iya, ummi ketrima. Abi udah tau, tolong ummi telpon ibu, karena ibu dah nelpon dari tadi. Abi ada pasien. Emang ummi kemana ajha?” Setelah aku jawab, kemudian kututup telponnya.

Yah, seperti ada yang hilang saat itu… Sepeti ada yang lupa kuberitahu berita gembira itu… Ibu, sudah… Papa, sudah… Kakak, sudah… Adik, sudah…

Aku lupa, bahwa aku sudah kehilangan mama 3 tahun yang lalu… Cuma mama yang belum aku kasih tau berita ini… Cuma mama yang ingin aku beri kabar terlebih dahulu… Bukan siapa-siapa… Tapi, dalam sujud syukur panjangku kala itu, aku hanya mendoakan agar mamaku dilapangkan jalannya di dalam kuburnya… Setitik ku teteskan air mata… Aku tidak ingin muridku melihat aku menangis… Lalu aku tersenyum, dan bersikap biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa…

Mmm… Buat teman-teman yang masih punya mama, jangan sia-siakan mama kalian, jangan pernah bantah mama kalian, jangan pernah mengeluh tentang apapun keadaan mama kalian. Apapun adanya mereka, merekalah yang telah melahirkan dan menjaga kalian sampai saat ini…

Buat mama-mama se dunia… I Love U Mom…

Aku Juga Kangen

April 13th, 2009 by adeknya-kakakku

mmpphh… Rasanya, baru kemarin aku lulus SMA. Dengan semua kenanganku di SMALAPALA. Yap… Aku adalah salah seorang anggota pecinta alam di SMU N 5 Surabaya. Aku DIKLAT Angkatan XI. Waktu itu, kami bersepuluh.

Dede’, Rio, B-Tink, Oki, Tommy, Owoz, Dhaniq, aku, Emma, dan Prili. Kami adalah hasil seleksi alam yang bisa bertahan dari berbagai macam godaan untuk tidak dapat mengkuti Pendidikan dan Latihan Dasar Kepecintaalaman SMU N 5 Surabaya. Yah, godaannya banyak. Yang paling berat adalah izin orang tua.

Masih ingat sekali waktu itu aku adalah salah satu yang dilarang oleh mama papa untuk mengikuti kegiatan dan ekstrakulikuler ini. Terlalu bahaya, kata mama dan papaku. Tapi, teman-teman datang ke rumah untuk meminta paksa mama dan papa untuk memperbolehkan aku mengikutinya. Wal hasil, aku diperbolehkan, dengan segala konsekuensi aku tanggung sendiri. Termasuk ketika DIKLAT usai dan aku harus mencuci semua peralatan dan perlengkapan DIKLAT tanpa bantuan, juga tidak dijemput di sekolah seperti teman-temanku yang lain…

Hehe, aku juga masih ingat ketika banyak mata memandangku yang bau tanah naik angkot dari Surabaya ke Sidoarjo. Malu??? Kayanya waktu itu, urat maluku sudah putus karena terganti dengan rasa bangga dalam hati… Hehe…

Setelah DIKLAT itu, aku jadi sering naik gunung dan wall and rock climbing, tapi aku gak sempat ikut arung jeram ke kendal payak. Aku gak dapat ijin, lagian nilaiku pas lagi jeblok.. Hehe.. Aku juga jadi sering jadi official team-nya temen-temen yang ikutan lomba wall climbing. Makanya, aku juga kenal ma yang namanya Galar, juara Speed Internasional (Tahunnya aku lupa), meskipun kami tidak satu sekolah.

Aku sangat suka outdoor activity, terutama hiking. Pas kuliah, hobyku ini tersalurkan juga meskipun gak full kaya pas SMA. Aku beberapa kali ikutan outbond BEM ataupun himpunan, aku juga pernah mengikuti DIKLATSAR Pandu, dan TIM SAR Kepanduan DPD Kabupaten Bandung.

Tapi sekarang, setelah menikah dan apalagi jadi ibu, aku belum pernah melakukannya lagi. Apalagi suamiku kurang bisa menikmati kegiatan kealambebasan ini. Aku kangen. Aku pengen bisa lagi naik gunung seperti yang dulu. Apalagi sama Prili. Sahabatku itu yang sangat mengerti aku. Wakakakak… Hush…

Yah… Mungkin nanti, kapan-kapan kalau Allah mengijinkan kami bertemu dalam suasana yang sama, untuk mentadabburi ni’mat-Nya dengan berjalan di alam bebas bersama keluarga kami masing-masing. Semoga. Semoga hati dan pikiran kami sama, seperti dulu. Bisa kompak! I Miss U, Pril!

Bukan di Negeri Atas Awan

April 13th, 2009 by adeknya-kakakku

Aku mengenal sosoknya tepat 2 tahun lalu. Ketika aku menginjak tanah Borneo tepatnya di kota Bontang ini. Beliau seorang ibu dari 3 orang anak. 2 Laki-laki dan 1 perempuan. Ibu ini dari suku Banjar, asli Kalimantan. Tidak ada yang terlalu mencolok dari penampilannya. Berkulit putih, bertubuh pendek (lebih tinggi aku sekitar 7 centi), dan agak sedikit gemuk. Orangnya lincah, sangat bersahabat, sederhana, rapi, dan cantik. Sikap sosialnya sangat tinggi, jiwa bisnisnya bergejolak tak lekang dimakan usia, ibadahnya seperti rahib yang haus akan cinta-Nya, mulutnya hanya digunakan sewajarnya, tidak pernah menggunjing, apalagi mencaci maki orang, dan hatinya yang luhur senantiasa mencoba meniru sang pemberi qudwah terbaik di dunia, Rasulullah Muhammad saw.

Aku memanggilnya Bu Suriansyah. Aku baru tahu namanya Norjenah, saat beliau dicalegkan oleh salah satu partai yang sangat mengutamakan kaderisasi bagi anggotanya. Apalagi kalau bukan Partai Keren Sekali.

Yah, semua orang yang mengenalnya, tidak pernah sekalipun mengeluhkan sifatnya. Semua berkata bahwa beliau orang yang sangat baik. Disini aku coba untuk sedikit menuliskan beberapa kebaikannya.

Saat aku tinggal serumah dengan beliau (ngekos), beliau sering sekali mengirimkan makanan untuk kami. Pun ketika kami beberapa kali menyelenggarakan acara sederhana, tak pernah terlewat sekalipun olehnya untuk memberikan camilan untuk tamu kami. Belum lagi ajakan-ajakannya dalam bersosial di lingkungan kami. Mulai mengajak arisan RT, pengajian RT, pengajian anatomi Al-Qur’an, sampai pengajian di masjid Daarus Salaam setiap hari Jum’at siang sampai menjelang Ashar. Padahal, aku dan beliau sendiri sudah mengikuti halaqoh yang diadakan tiap pekan.

Juga pernah suatu kali, anakku harus opname di RS. Beliau tak segan-segan untuk menjenguk dan menawarkan bantuan untuk bergantian menjaga anakku. Tapi aku menolaknya, karena beliau juga punya keluarga. Lagian, saat itu aku belum bekerja jadi aku masih bisa menjaganya 24 jam. Meski sudah aku tolak, beliau tetap saja tiap hari datang menjenguk dan membawakan camilan untukku dan juga untuk suamiku. Karena saat itu, anakku belum boleh makan makanan pendamping ASI. Tak pernah absen seharipun, meskipun cuma 5 atau 10 menit. Kalah ya, sama keluarga sendiri? Mungkin kadang, keluarga kita capek untuk menjenguk kita atau anak kita setiap hari.

Ketika aku mulai bekerja, dan aku belum mendapatkan khadimat untuk menjaga anakku, beliau tak segan mengulurkan tangannya untuk mengasuh anakku. Padahal, saat jam 12 istirahat siang, aku tidak boleh keluar dari sekolah, aku mengajar di SDIT yang menerapkan sistem Full Dday School. Jadi full dari pagi sampai sore, beliau mengasuh anakku. Tidak lama, sekitar satu minggu, tapi bagiku itu sangat berkesan sekali. Padahal, aku bukan keluarganya, bukan pula orang yang telah lama dikenalnya.

Belum lagi saat keluarga itu (1 keluarga penuh + nenek) pergi umrah ke tanah suci sebulan penuh selama Ramadhan, beliau mempersilahkan saja kepada kami untuk meminjam mobilnya. Bayangkan! Sebulan penuh kami dipinjami. Tanpa menarik harga, apalagi menaruh curiga sedikitpun. Padahal, siapa kami? Sekali lagi, kami bukan siapa-siapa mereka.

Beliau juga sangat ulet dalam berbisnis. Bisa melihat peluang yang ada. Sedikit demi sedikit, bisnis yang dimilikinya mulai berkembang. Amplang, souvenir, pulsa, kamar kos, persewaan rumah, dan terakhir adalah toko buah. Berkali-kali kami tahu dengan mata kepala sendiri melihat beliau didzalimi rekan bisnisnya, tapi beliau tidak pernah sedikitpun menaruh dendam. Beliau selalu berkata, “Kalau memang rezeki kita, tidak akan tertukar dengan orang lain. Semua sudah diatur sama Allah.” Sembari tersenyum sangat manis. Suatu kali pernah aku tanya, apakah beliau tidak punya rasa kecewa. Tapi kata beliau, buat apa kecewa karena dunia, bikin penyakit ajha. Biar Allah yang membalas semua apa yang sudah kita lakukan di dunia.

Hidupnya seperti sangat enjoy. Anaknya pun tidak ada yang bermasalah, semua penurut, semua memiliki otak yang sangat encer, dan semua taat beribadah. Tidak pernah terjadi pertengkaran sekecil apapun antara kakak beradik tersebut. Semua akur. Tidak pernah terdengar teriakan dalam rumahnya. Semua indah, damai, dan sejuk.

Pernah ada seseorang yang bercerita kepadaku, bahwa dia ditolong oleh keluarga itu mulai dari mereka hidup di Bontang sampai sekarang. 10 tahun lamanya. Diberi tempat tinggal, diberi pekerjaan (menjadi penjual buah), asal mau merawat rumah yang ditempati sekaligus sebagai tempat usaha tersebut. Dia bilang, “tidak pernah ibu curiga jika pendapatan bulan ini lebih sedikit dibandingkan dengan bulan lalu. Yang ada hanya ucapan Alhamdulillah dari mulut ibu.” Subhanallah…

Ada juga orang yang pernah ditolong beliau dengan memberi ruang untuk berjualan tanpa menarik uang sewa sedikitpun. Mereka ini tidak 1 atau 2 orang. Tapi beberapa orang telah “menikmati pertolongan” dari beliau. Penjual molen, penjual bakpao, penjual karpet, penjual durian, penjual keripik singkong, penjual es dawet, dan terakhir penjual siomay dan ketupat sayur. Padahal di Bontang ini, dengan menyewakan sedikit saja tanah untuk mereka berjualan itu, bisa dapat 300 ribu tiap bulan. Kalikan saja dengan 12 bulan dan 10 tahun. 36.000.000!!! Angka yang tidak bisa dianggap sedikit. Itu kalau 1 orang yang menyewa. Kalau 2, bagaimana? Tentu akan berlipat lagi.

Mengenalnya, adalah suatu anugerah. Mengenalnya, adalah sebuah pelajaran hidup. Mengenalnya, adalah kenangan yang sangat indah dalam sebuah episode kehidupanku. Untuk belajar bersabar, mendidik anak, menyenangkan suami, berbisnis, dan terlebih adalah untuk mencintai-Nya. Beliau punya cara yang unik dalam menyikapi hidup dan kehidupan ini. Baliau adalah mama kedua-ku.

Beliau cuma seorang manusia biasa yang menjadi sangat luar biasa karena keluhuran sifat dan sikapnya. Bagai negeri diatas awan rasanya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta melapangkan kehidupan di dunia dan akhirat bagi keluarga itu. Terutama kepada ibu. Amiin…

Masak Ala Ummu Fauzan

April 13th, 2009 by adeknya-kakakku

Satu hal yang tidak pernah diajarkan mamaku ketika aku masih gadis adalah memasak. Yup… Untuk pekerjaan yang satu ini, paling aku hanya disuruh kupas bawang atau nyuci sayur. Gak pernah dikasih resep makanan tertentu apalagi tips-tips dalam memasak. Jangankan aku yang anak ragil dan agak sedikit kelaki-lakian, 2 orang kakak perempuanku juga tidak pernah sedikitpun diajarkan memasak oleh mama. Padahal masakan mamaku sangat enak meski tanpa MSG dan semacamnya. Mama selalu menangani sendiri semua masakannya.

Mama pernah bilang ke kakak pertamaku saat dia bertanya mengapa mama tidak pernah memberi ‘pelajaran’ memasak kepada kami. Jawaban mama, memasak adalah naluri wanita, naluri istri, dan naluri ibu. Memasak adalah dengan cinta, bukan sekedar bumbu. Itulah yang menyebabkan masakan mama terasa sangat enak untuk lidah kami.

Yah, selama 3 tahun menikah ini, aku masih sering buka buku resep, masih sering telpon ibu mertua dan atau nanya ke adik ipar soal bumbu dari masakan yang aku masak. Misalnya, aku suka sekali bakwan jagung. Kata adik ipar bumbunya bawang putih, bawang merah, kunci, setelah dihaluskan dengan jagung, campur dengan telur dan tambahi sedikit tepung terigu. Maklum, jagung disini jagung manis, tidak ada jagung biasa. Dan jenis jagung manis itu banyak sekali mengandung air, sehingga kalau diuleg atau dihaluskan, akan menghasilkan air yang cukup banyak, jadi perlu tepung untuk mengurangi kadar air dan merekatkan adonan bakwan jagung. Tapi kalau aku, kutambahi bumbunya dengan cabai besar dibuang bijinya agar tidak pedas, dihaluskan bareng bawang, dan campur dengan sedikit daung bawang dan seledri agar tambah harum.

Memasak adalah caraku memberikan cinta kepada keluarga kecilku ini. Menu yang aku sajikan gak terlalu ribet seperti yang ada di tipi-tipi. Kadang, kalau Hari Sabtu Ahad, baru aku masak yang agak ribet kaya rawon, sup sehat lengkap, makanan itali (spaghetti dan kawan-kawan), ayam bakar, ikan bakar, sayur krecek, atau lodeh, dan lain-lain.

Aku pun gak selalu sukses dalam memasak. Kadang terlalu asin (yang paling sering), aneh rasanya (biasanya kalo kehabisan bumbu), atau terlalu pedas (suami tidak suka masakan pedas). Namun, aku tidak pernah kapok untuk memasak dan mencoba terus belajar memasak. Suamiku pun sangat suka dengan masakanku. Kalau ada yang tidak pas, dia menyindirnya dengan baik. Tidak menyakiti, ataupun menghakimi.

Anakku Fauzan yang belum bisa menikmati betul masakanku. Karena giginya banyak yang belum tumbuh, sehingga dia baru bisa makan makanan tertentu. Yang sangat simpel dan mudah untuk dilakukan.

Aku Juga Kangen

April 13th, 2009 by adeknya-kakakku

Hmmpphh… Rasanya, baru kemarin aku lulus SMA. Dengan semua kenanganku di SMALAPALA. Yap… Aku adalah salah seorang anggota pecinta alam di SMU N 5 Surabaya. Aku DIKLAT Angkatan XI. Waktu itu, kami bersepuluh.

Dede’, Rio, B-Tink, Oki, Tommy, Owoz, Dhaniq, aku, Emma, dan Prili. Kami adalah hasil seleksi alam yang bisa bertahan dari berbagai macam godaan untuk tidak dapat mengkuti Pendidikan dan Latihan Dasar Kepecintaalaman SMU N 5 Surabaya. Yah, godaannya banyak. Yang paling berat adalah izin orang tua.

Masih ingat sekali waktu itu aku adalah salah satu yang dilarang oleh mama papa untuk mengikuti kegiatan dan ekstrakulikuler ini. Terlalu bahaya, kata mama dan papaku. Tapi, teman-teman datang ke rumah untuk meminta paksa mama dan papa untuk memperbolehkan aku mengikutinya. Wal hasil, aku diperbolehkan, dengan segala konsekuensi aku tanggung sendiri. Termasuk ketika DIKLAT usai dan aku harus mencuci semua peralatan dan perlengkapan DIKLAT tanpa bantuan, juga tidak dijemput di sekolah seperti teman-temanku yang lain…

Hehe, aku juga masih ingat ketika banyak mata memandangku yang bau tanah naik angkot dari Surabaya ke Sidoarjo. Malu??? Kayanya waktu itu, urat maluku sudah putus karena terganti dengan rasa bangga dalam hati… Hehe…

Setelah DIKLAT itu, aku jadi sering naik gunung dan wall and rock climbing, tapi aku gak sempat ikut arung jeram ke kendal payak. Aku gak dapat ijin, lagian nilaiku pas lagi jeblok.. Hehe.. Aku juga jadi sering jadi official team-nya temen-temen yang ikutan lomba wall climbing. Makanya, aku juga kenal ma yang namanya Galar, juara Speed Internasional (Tahunnya aku lupa), meskipun kami tidak satu sekolah.

Aku sangat suka outdoor activity, terutama hiking. Pas kuliah, hobyku ini tersalurkan juga meskipun gak full kaya pas SMA. Aku beberapa kali ikutan outbond BEM ataupun himpunan, aku juga pernah mengikuti DIKLATSAR Pandu, dan TIM SAR Kepanduan DPD Kabupaten Bandung.

Tapi sekarang, setelah menikah dan apalagi jadi ibu, aku belum pernah melakukannya lagi. Apalagi suamiku kurang bisa menikmati kegiatan kealambebasan ini. Aku kangen. Aku pengen bisa lagi naik gunung seperti yang dulu. Apalagi sama Prili. Sahabatku itu yang sangat mengerti aku. Wakakakak… Hush…

Yah… Mungkin nanti, kapan-kapan kalau Allah mengijinkan kami bertemu dalam suasana yang sama, untuk mentadabburi ni’mat-Nya dengan berjalan di alam bebas bersama keluarga kami masing-masing. Semoga. Semoga hati dan pikiran kami sama, seperti dulu. Bisa kompak! I Miss U, Pril!

3 Bulan Fauzan

June 21st, 2007 by adeknya-kakakku

Kemaren tanggal 19 Juni, anakku, Fauzan Azhima Abdurrahman, kubawa ke RS LNG buat imunisasi… Pas ditimbang, kaget juga aku… Cos berat badannya dah mencapai 6 kg, padahal sebelumnya cuma 4,8 kg… Naiknya lumayan drastis… Padahal lagi, beberapa hari sebelumnya, dia gak bisa pup alias ada gangguan pencernaan… Kupikir kalo berat badannya bakal naik tapi sedikit… Ternyata dugaanku salah… Dia malah bertambah gedhe…

Gendut sih, enggak, tapi berisi… Tiap pagi olah raga bareng Umi, setelah mandi pagi n pijat pagi… Sorenya, abis mandi pijat lagi… Pantes ajha dia tenang… Jarang nangis… Tapi sering ketawa… Apalagi kalo ada ami, ortunya… Hehehe…

Anehnya, meskipun Bontang PANAS, anakku ga mau masuk ruangan berAC.. termasuk pas di RS yang duingin, dia malah pake jaket TUEBEL… Hehehe…

Dah ah, dia nangis nih… Minta PULANG dari WARNET…

3 Minggu di Bontang

May 22nd, 2007 by adeknya-kakakku

Alhamdulillah, sekarang dah bisa kumpul dengan suami. Setelah sekian lama menikah, baru kali ini punya "rumah" sendiri meskipun kecil dan dengan perabot rumah sederhana lainnya. Cukuplah untuk keluarga kecil kami.

Bontang, hampir 3 minggu sudah aq manginjakkan kaki di tanah pulau Borneo ini. Perjalanan 6 jam dari Balikpapan tak membuat kami surut untuk mendatangi seseorang yang kami cintai, Abi. Hehehe.

Bontang panas. Kalo siang sampe hampir 37 derajat celcius suhunya. Kalo malam, sampe saat ini masih 24 derajat celcius suhu terendahnya. Si Fauzan kalo siang ngrengek terus minta dimandiin lagi. Tapi kalo malam, meskipun kami berselimut, dia tetep ajha ga mau pake selimut. Yah GPP lah, pokoknya ga nangis ajha.

Bontang 3 minggu ini, cukup membuatku lega. Cos disini aku ngerasa sama kaya di Bandung. Banyak ikhwah. Bapak n Ibu kost kami kan ikhwah juga… Alhamdulillah… Bisa saling menguatkan.

Tapi ga enaknya Bontang, APA-APA MAHAAAAAAAAAL… Masa jilbab kain di bandung 43rb dapet 2, disini 43rb dapet 1? Kaos kaki akhwat yang biasaya 7500, disini 10rb? makanya aku segera menghubungi Afie untuk dibelikan di Bandung, n dikirim ke Bontang untuk aku…  Hehehe… Ngrepotin nich, ceritanya…

Btw, dah dulu deh critanya… Oia, Fauzan, my son, beratnya dah hampir 5 kg, n panjangnya 56 cm, naik 8 cm dari panjang lahirnya. Dia dah bisa miring2, nyeloteh, ketawa kalo dikudang, ngajak ngobrol Umi Abinya, "olah raga", main sendiri, nangis, ngangkat kepala kalo ditengkurepin, etc… Wah senangnya jadi istri n Umi…

Buat yang blom nikah, cepet nikah yah… Hehehehe…

SECTIO Anak Pertamaku…

April 7th, 2007 by adeknya-kakakku

Alhamdulillah… Akhirnya lahirlah putra pertama kami… Fauzan Azhima Abdurrahman… (Tadinya mau dikasih nama Umar Al Farouq, tapi ga jadi)… Lahir di RSUD Sidoarjo tanggal 17 Maret 2007 pukul 09.35 WIB dengan berat 3200 gr dan panjang 48 cm berjenis kelamin laki-laki secara sectio (sesar)…

Masuk ruang operasi dengan sadar, operasi pun hanya bius lokal… Walhasil, semua kata dokter aq dengar… Ketika selesai operasi, putraq ga nangis sampai 5 menit…Kebanyakan bayi lahir dengan sectio, terlambat nangis… Trus, aq diberi obat tidur… Aq tertidur dari pukul 09.45 sampai 11.10… Setelah aq bangun, aq dipindah ke ruang ICU untuk observasi… Anastesi di tubuhq masih belum hilang, jadi aq belum merasakan sakit… Ketika anastesi mulai hilang, MASYA ALLAH… Aq merasakan sakit yang sangat luar biasa di perutq…

Sangking sakitnya, sampe kata perawat yang ada disana, tensiq jadi 140, dan aq harus diberi obat tidur lagi n oksigen, padahal aq tidak merasakan sesak nafas… Yah, namanya juga prosedur standar perawatn di RS kan demikian… Hehe…

Aku terbangun saat hari sudah sore, sekitar pukul 16.35 WIB… Ternyata ada suamiq di samping… LHO KOK DIA BISA MASUK RUANG ICU ya??? Mungkin, perawat disana membaca statusq… Walhasil, suamiq boleh masuk… Alhamdulillah… Aq masih merasakan sakit luar biasa di perut bagian bawah… Untuk menenangkan hatiq, kuminta suamiq membacakan surat Ar-Rahman dan Al-Ma’tsurat… Aq mengikutinya perlahan… Alhamdulillah, sedikit demi sedikit aq lebih tenang dan sakitnya mereda…

Suami minta izin kepadaq untuk kembali ke kamar, karena hampir Maghrib… Tentu saja aq memperbolehkannya… Setelah dia pergi, perawat bilang supaya aq bergerak miring kiri-kanan… Supaya bisa kentut, katanya… Gimana mau gerak, pikirq… Wong suakitnya bukan main… Tapi, aq turuti saja… Seperti kata suami sebelum masuk ruang operasi pagi harinya… "Umi, nanti kalo perawatnya udah nyuruh Umi bergerak, Umi cepet gerak ya… Jangan dieman-eman"… Tapi tgetep ajha aq ga bisa kentut…

Pukul 19.00 aq diperbolehkan meninggalkan ruang ICU dan "DIGELEDEK" ke kamar… Alhamdulillahnya, suamiq menitipkan jilbabq ke perawat sebagai ganti penutup kepala ruang ICU…

Sampai di kamar, aq minta minum air putih, padahal blom boleh minum sebelum aq bisa kentut lagi… Tapi aq haus, dan suami kasian melihatq minta minum… Akhirnya aku dikasih juga… Dia bilang, "Seteguk ajha, ya Mi"… Tapi aq minum sampai 3 taguk… Hehehehe… Nakalnya aq…

Yah… Gitu deh pengalamn pertamaq melahirkan… Alhamduilillah semuanya sehat sekarang… Aq sudah bisa beraktivitas lagi… Bayiq sudah sehat… Minumnya buanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak… Alhamdulillah… Tak henti-hentinya kata itu kuucapkan…

PULANG… PULANG… PULANG…

February 18th, 2007 by adeknya-kakakku

Hari ini, aku mau pulang ke Sidoarjo…

"Adek, jangan nakal ya… Nanti di perjalanan jangan bikin Umi sakit or kebingunan sendiri yah… Umi nanti pulang ke Surabaya sendiri, soalnya… Trus, bawa barang banyak… Adek jangan nakal ya… Yang baik di perut, ya… Nanti kalo udah lahir, nyusul Abi ke Bontang naik pesawat…"

Ya… Ya… Ya… Abisnya, nih Adek nakallll banget, kuat banget tendangannya… Sekarang ajha, si Adek lagi lari2… Hehehehehehehe… Maklum, aku juga blom sarapan pagi… Si Adek berontak minta makan… "Bentar, ya Nak… Umi masih ngurus sesuatu di Jurusan… Sabar…"

Buat TW, bukan 2 - 0… Tapi 3 - 0… 1 - 0, Aku dah nikah… 2 - 0, Aku dah mau punya "buntut"… 3 - 0, Aku dah SIDANG… Hehehehehehe… Tuh kan…

Cerita Bagus [Ibu}

February 18th, 2007 by adeknya-kakakku

softdrink_82 - [ Ibu ] Jakarta,

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang
kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan
berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif
atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula.

Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang
terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah
sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi
penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan.
Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah
terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang
tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter
berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu".
Sayapun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap
pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta
izin saya" Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.
"Memang harganya berapa dok?" Tanya saya.
Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik."
"Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?
Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".

Setelah menarik napas panjang saya berkata,
"Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?"
Saat itu butiran air bening mengalir di pipi.

Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali
lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang
Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan."
"Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta
bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami
deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena
istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu
kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya,
pak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat
ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya
Tuhanku. aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu,
akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan
Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah
aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku. gerangan keburukan apa
yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku
yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku
begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan
Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun
mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku.
Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah
Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam
keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya
sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri
mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75
saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata
berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat. yang ngambil uangku
kualat." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh
ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa
sayalah yang mengambil uang itu.
Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan
ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya
akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah
penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan
mengambil uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang saya
tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga
buah hati saya.

Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya
bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan
uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang
lalu?"
"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil,duit
itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada
yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban
itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya. yang ngambil uang itu
saya, bu. saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf. saat nanti
ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu."
Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon
saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang
ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil
adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja
isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah
memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa
darinya. Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di
ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata
"Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas.
Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan
operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya
merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya
berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan
dokter."

Saya meninggalkan ruangan dokter itu…. dengan berbisik pada diri
sendiri "Ibu, I miss you so much."
Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller
KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.