Archive for April, 2009

Curhat ajha…

Monday, April 13th, 2009

Saat itu, adalah hari Jum’at… Hari dimana orang se-Bontang Raya ini deg-deg-an… Hari itu aku juga deg-deg-an… Gimana enggak, sampai Kamis malam, raport murid ku belum ada satupun yang jadi. Padahal tadi malam, aku denger teman-teman guru yang lain sampai pulang pukul 12 tengah malam… Aku enggak tau apanya yang salah…

Pagi hari setelah pembinaan, aku langsung menuju ke “ruanganku”, aku langsung buka komputer yang ada dihadapanku, dan ku buka file Raport Kelas III Abu Bakar… Setelah ku cek satu persatu, aku pun lalu mem-print raport tersebut… 30 menit, kelar… Alhamdulillah… Tapi tugasku belum selesai, aku bantu Wali Kelas III Umar dan III Utsman untuk nge-print raport mereka…

Aku tersadar dari semua tugasku ketika salah seorang teman guru yang lain, mengucapkan selamat kepadaku… Aku baru tahu bahwa namaku tercantum di koran harian setempat, bahwa aku diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil Kota Bontang dengan ditempatkan di Dinas Sosial Tenaga Kerja Kota Bontang Tahun 2008. Trus, aku cari HP ku untuk mengabarkan berita gembira itu kepada suamiku… Lho, HP ku kemana????

Ternyata, HP ku di tas…

Aku lihat, ternyata sudah ada 10 panggilan tak terjawab dan 5 pesan pendek diterima… Aku langsung telpon suami, ternyata malah dia bilang “iya, ummi ketrima. Abi udah tau, tolong ummi telpon ibu, karena ibu dah nelpon dari tadi. Abi ada pasien. Emang ummi kemana ajha?” Setelah aku jawab, kemudian kututup telponnya.

Yah, seperti ada yang hilang saat itu… Sepeti ada yang lupa kuberitahu berita gembira itu… Ibu, sudah… Papa, sudah… Kakak, sudah… Adik, sudah…

Aku lupa, bahwa aku sudah kehilangan mama 3 tahun yang lalu… Cuma mama yang belum aku kasih tau berita ini… Cuma mama yang ingin aku beri kabar terlebih dahulu… Bukan siapa-siapa… Tapi, dalam sujud syukur panjangku kala itu, aku hanya mendoakan agar mamaku dilapangkan jalannya di dalam kuburnya… Setitik ku teteskan air mata… Aku tidak ingin muridku melihat aku menangis… Lalu aku tersenyum, dan bersikap biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa…

Mmm… Buat teman-teman yang masih punya mama, jangan sia-siakan mama kalian, jangan pernah bantah mama kalian, jangan pernah mengeluh tentang apapun keadaan mama kalian. Apapun adanya mereka, merekalah yang telah melahirkan dan menjaga kalian sampai saat ini…

Buat mama-mama se dunia… I Love U Mom…

Aku Juga Kangen

Monday, April 13th, 2009

mmpphh… Rasanya, baru kemarin aku lulus SMA. Dengan semua kenanganku di SMALAPALA. Yap… Aku adalah salah seorang anggota pecinta alam di SMU N 5 Surabaya. Aku DIKLAT Angkatan XI. Waktu itu, kami bersepuluh.

Dede’, Rio, B-Tink, Oki, Tommy, Owoz, Dhaniq, aku, Emma, dan Prili. Kami adalah hasil seleksi alam yang bisa bertahan dari berbagai macam godaan untuk tidak dapat mengkuti Pendidikan dan Latihan Dasar Kepecintaalaman SMU N 5 Surabaya. Yah, godaannya banyak. Yang paling berat adalah izin orang tua.

Masih ingat sekali waktu itu aku adalah salah satu yang dilarang oleh mama papa untuk mengikuti kegiatan dan ekstrakulikuler ini. Terlalu bahaya, kata mama dan papaku. Tapi, teman-teman datang ke rumah untuk meminta paksa mama dan papa untuk memperbolehkan aku mengikutinya. Wal hasil, aku diperbolehkan, dengan segala konsekuensi aku tanggung sendiri. Termasuk ketika DIKLAT usai dan aku harus mencuci semua peralatan dan perlengkapan DIKLAT tanpa bantuan, juga tidak dijemput di sekolah seperti teman-temanku yang lain…

Hehe, aku juga masih ingat ketika banyak mata memandangku yang bau tanah naik angkot dari Surabaya ke Sidoarjo. Malu??? Kayanya waktu itu, urat maluku sudah putus karena terganti dengan rasa bangga dalam hati… Hehe…

Setelah DIKLAT itu, aku jadi sering naik gunung dan wall and rock climbing, tapi aku gak sempat ikut arung jeram ke kendal payak. Aku gak dapat ijin, lagian nilaiku pas lagi jeblok.. Hehe.. Aku juga jadi sering jadi official team-nya temen-temen yang ikutan lomba wall climbing. Makanya, aku juga kenal ma yang namanya Galar, juara Speed Internasional (Tahunnya aku lupa), meskipun kami tidak satu sekolah.

Aku sangat suka outdoor activity, terutama hiking. Pas kuliah, hobyku ini tersalurkan juga meskipun gak full kaya pas SMA. Aku beberapa kali ikutan outbond BEM ataupun himpunan, aku juga pernah mengikuti DIKLATSAR Pandu, dan TIM SAR Kepanduan DPD Kabupaten Bandung.

Tapi sekarang, setelah menikah dan apalagi jadi ibu, aku belum pernah melakukannya lagi. Apalagi suamiku kurang bisa menikmati kegiatan kealambebasan ini. Aku kangen. Aku pengen bisa lagi naik gunung seperti yang dulu. Apalagi sama Prili. Sahabatku itu yang sangat mengerti aku. Wakakakak… Hush…

Yah… Mungkin nanti, kapan-kapan kalau Allah mengijinkan kami bertemu dalam suasana yang sama, untuk mentadabburi ni’mat-Nya dengan berjalan di alam bebas bersama keluarga kami masing-masing. Semoga. Semoga hati dan pikiran kami sama, seperti dulu. Bisa kompak! I Miss U, Pril!

Bukan di Negeri Atas Awan

Monday, April 13th, 2009

Aku mengenal sosoknya tepat 2 tahun lalu. Ketika aku menginjak tanah Borneo tepatnya di kota Bontang ini. Beliau seorang ibu dari 3 orang anak. 2 Laki-laki dan 1 perempuan. Ibu ini dari suku Banjar, asli Kalimantan. Tidak ada yang terlalu mencolok dari penampilannya. Berkulit putih, bertubuh pendek (lebih tinggi aku sekitar 7 centi), dan agak sedikit gemuk. Orangnya lincah, sangat bersahabat, sederhana, rapi, dan cantik. Sikap sosialnya sangat tinggi, jiwa bisnisnya bergejolak tak lekang dimakan usia, ibadahnya seperti rahib yang haus akan cinta-Nya, mulutnya hanya digunakan sewajarnya, tidak pernah menggunjing, apalagi mencaci maki orang, dan hatinya yang luhur senantiasa mencoba meniru sang pemberi qudwah terbaik di dunia, Rasulullah Muhammad saw.

Aku memanggilnya Bu Suriansyah. Aku baru tahu namanya Norjenah, saat beliau dicalegkan oleh salah satu partai yang sangat mengutamakan kaderisasi bagi anggotanya. Apalagi kalau bukan Partai Keren Sekali.

Yah, semua orang yang mengenalnya, tidak pernah sekalipun mengeluhkan sifatnya. Semua berkata bahwa beliau orang yang sangat baik. Disini aku coba untuk sedikit menuliskan beberapa kebaikannya.

Saat aku tinggal serumah dengan beliau (ngekos), beliau sering sekali mengirimkan makanan untuk kami. Pun ketika kami beberapa kali menyelenggarakan acara sederhana, tak pernah terlewat sekalipun olehnya untuk memberikan camilan untuk tamu kami. Belum lagi ajakan-ajakannya dalam bersosial di lingkungan kami. Mulai mengajak arisan RT, pengajian RT, pengajian anatomi Al-Qur’an, sampai pengajian di masjid Daarus Salaam setiap hari Jum’at siang sampai menjelang Ashar. Padahal, aku dan beliau sendiri sudah mengikuti halaqoh yang diadakan tiap pekan.

Juga pernah suatu kali, anakku harus opname di RS. Beliau tak segan-segan untuk menjenguk dan menawarkan bantuan untuk bergantian menjaga anakku. Tapi aku menolaknya, karena beliau juga punya keluarga. Lagian, saat itu aku belum bekerja jadi aku masih bisa menjaganya 24 jam. Meski sudah aku tolak, beliau tetap saja tiap hari datang menjenguk dan membawakan camilan untukku dan juga untuk suamiku. Karena saat itu, anakku belum boleh makan makanan pendamping ASI. Tak pernah absen seharipun, meskipun cuma 5 atau 10 menit. Kalah ya, sama keluarga sendiri? Mungkin kadang, keluarga kita capek untuk menjenguk kita atau anak kita setiap hari.

Ketika aku mulai bekerja, dan aku belum mendapatkan khadimat untuk menjaga anakku, beliau tak segan mengulurkan tangannya untuk mengasuh anakku. Padahal, saat jam 12 istirahat siang, aku tidak boleh keluar dari sekolah, aku mengajar di SDIT yang menerapkan sistem Full Dday School. Jadi full dari pagi sampai sore, beliau mengasuh anakku. Tidak lama, sekitar satu minggu, tapi bagiku itu sangat berkesan sekali. Padahal, aku bukan keluarganya, bukan pula orang yang telah lama dikenalnya.

Belum lagi saat keluarga itu (1 keluarga penuh + nenek) pergi umrah ke tanah suci sebulan penuh selama Ramadhan, beliau mempersilahkan saja kepada kami untuk meminjam mobilnya. Bayangkan! Sebulan penuh kami dipinjami. Tanpa menarik harga, apalagi menaruh curiga sedikitpun. Padahal, siapa kami? Sekali lagi, kami bukan siapa-siapa mereka.

Beliau juga sangat ulet dalam berbisnis. Bisa melihat peluang yang ada. Sedikit demi sedikit, bisnis yang dimilikinya mulai berkembang. Amplang, souvenir, pulsa, kamar kos, persewaan rumah, dan terakhir adalah toko buah. Berkali-kali kami tahu dengan mata kepala sendiri melihat beliau didzalimi rekan bisnisnya, tapi beliau tidak pernah sedikitpun menaruh dendam. Beliau selalu berkata, “Kalau memang rezeki kita, tidak akan tertukar dengan orang lain. Semua sudah diatur sama Allah.” Sembari tersenyum sangat manis. Suatu kali pernah aku tanya, apakah beliau tidak punya rasa kecewa. Tapi kata beliau, buat apa kecewa karena dunia, bikin penyakit ajha. Biar Allah yang membalas semua apa yang sudah kita lakukan di dunia.

Hidupnya seperti sangat enjoy. Anaknya pun tidak ada yang bermasalah, semua penurut, semua memiliki otak yang sangat encer, dan semua taat beribadah. Tidak pernah terjadi pertengkaran sekecil apapun antara kakak beradik tersebut. Semua akur. Tidak pernah terdengar teriakan dalam rumahnya. Semua indah, damai, dan sejuk.

Pernah ada seseorang yang bercerita kepadaku, bahwa dia ditolong oleh keluarga itu mulai dari mereka hidup di Bontang sampai sekarang. 10 tahun lamanya. Diberi tempat tinggal, diberi pekerjaan (menjadi penjual buah), asal mau merawat rumah yang ditempati sekaligus sebagai tempat usaha tersebut. Dia bilang, “tidak pernah ibu curiga jika pendapatan bulan ini lebih sedikit dibandingkan dengan bulan lalu. Yang ada hanya ucapan Alhamdulillah dari mulut ibu.” Subhanallah…

Ada juga orang yang pernah ditolong beliau dengan memberi ruang untuk berjualan tanpa menarik uang sewa sedikitpun. Mereka ini tidak 1 atau 2 orang. Tapi beberapa orang telah “menikmati pertolongan” dari beliau. Penjual molen, penjual bakpao, penjual karpet, penjual durian, penjual keripik singkong, penjual es dawet, dan terakhir penjual siomay dan ketupat sayur. Padahal di Bontang ini, dengan menyewakan sedikit saja tanah untuk mereka berjualan itu, bisa dapat 300 ribu tiap bulan. Kalikan saja dengan 12 bulan dan 10 tahun. 36.000.000!!! Angka yang tidak bisa dianggap sedikit. Itu kalau 1 orang yang menyewa. Kalau 2, bagaimana? Tentu akan berlipat lagi.

Mengenalnya, adalah suatu anugerah. Mengenalnya, adalah sebuah pelajaran hidup. Mengenalnya, adalah kenangan yang sangat indah dalam sebuah episode kehidupanku. Untuk belajar bersabar, mendidik anak, menyenangkan suami, berbisnis, dan terlebih adalah untuk mencintai-Nya. Beliau punya cara yang unik dalam menyikapi hidup dan kehidupan ini. Baliau adalah mama kedua-ku.

Beliau cuma seorang manusia biasa yang menjadi sangat luar biasa karena keluhuran sifat dan sikapnya. Bagai negeri diatas awan rasanya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta melapangkan kehidupan di dunia dan akhirat bagi keluarga itu. Terutama kepada ibu. Amiin…

Masak Ala Ummu Fauzan

Monday, April 13th, 2009

Satu hal yang tidak pernah diajarkan mamaku ketika aku masih gadis adalah memasak. Yup… Untuk pekerjaan yang satu ini, paling aku hanya disuruh kupas bawang atau nyuci sayur. Gak pernah dikasih resep makanan tertentu apalagi tips-tips dalam memasak. Jangankan aku yang anak ragil dan agak sedikit kelaki-lakian, 2 orang kakak perempuanku juga tidak pernah sedikitpun diajarkan memasak oleh mama. Padahal masakan mamaku sangat enak meski tanpa MSG dan semacamnya. Mama selalu menangani sendiri semua masakannya.

Mama pernah bilang ke kakak pertamaku saat dia bertanya mengapa mama tidak pernah memberi ‘pelajaran’ memasak kepada kami. Jawaban mama, memasak adalah naluri wanita, naluri istri, dan naluri ibu. Memasak adalah dengan cinta, bukan sekedar bumbu. Itulah yang menyebabkan masakan mama terasa sangat enak untuk lidah kami.

Yah, selama 3 tahun menikah ini, aku masih sering buka buku resep, masih sering telpon ibu mertua dan atau nanya ke adik ipar soal bumbu dari masakan yang aku masak. Misalnya, aku suka sekali bakwan jagung. Kata adik ipar bumbunya bawang putih, bawang merah, kunci, setelah dihaluskan dengan jagung, campur dengan telur dan tambahi sedikit tepung terigu. Maklum, jagung disini jagung manis, tidak ada jagung biasa. Dan jenis jagung manis itu banyak sekali mengandung air, sehingga kalau diuleg atau dihaluskan, akan menghasilkan air yang cukup banyak, jadi perlu tepung untuk mengurangi kadar air dan merekatkan adonan bakwan jagung. Tapi kalau aku, kutambahi bumbunya dengan cabai besar dibuang bijinya agar tidak pedas, dihaluskan bareng bawang, dan campur dengan sedikit daung bawang dan seledri agar tambah harum.

Memasak adalah caraku memberikan cinta kepada keluarga kecilku ini. Menu yang aku sajikan gak terlalu ribet seperti yang ada di tipi-tipi. Kadang, kalau Hari Sabtu Ahad, baru aku masak yang agak ribet kaya rawon, sup sehat lengkap, makanan itali (spaghetti dan kawan-kawan), ayam bakar, ikan bakar, sayur krecek, atau lodeh, dan lain-lain.

Aku pun gak selalu sukses dalam memasak. Kadang terlalu asin (yang paling sering), aneh rasanya (biasanya kalo kehabisan bumbu), atau terlalu pedas (suami tidak suka masakan pedas). Namun, aku tidak pernah kapok untuk memasak dan mencoba terus belajar memasak. Suamiku pun sangat suka dengan masakanku. Kalau ada yang tidak pas, dia menyindirnya dengan baik. Tidak menyakiti, ataupun menghakimi.

Anakku Fauzan yang belum bisa menikmati betul masakanku. Karena giginya banyak yang belum tumbuh, sehingga dia baru bisa makan makanan tertentu. Yang sangat simpel dan mudah untuk dilakukan.

Aku Juga Kangen

Monday, April 13th, 2009

Hmmpphh… Rasanya, baru kemarin aku lulus SMA. Dengan semua kenanganku di SMALAPALA. Yap… Aku adalah salah seorang anggota pecinta alam di SMU N 5 Surabaya. Aku DIKLAT Angkatan XI. Waktu itu, kami bersepuluh.

Dede’, Rio, B-Tink, Oki, Tommy, Owoz, Dhaniq, aku, Emma, dan Prili. Kami adalah hasil seleksi alam yang bisa bertahan dari berbagai macam godaan untuk tidak dapat mengkuti Pendidikan dan Latihan Dasar Kepecintaalaman SMU N 5 Surabaya. Yah, godaannya banyak. Yang paling berat adalah izin orang tua.

Masih ingat sekali waktu itu aku adalah salah satu yang dilarang oleh mama papa untuk mengikuti kegiatan dan ekstrakulikuler ini. Terlalu bahaya, kata mama dan papaku. Tapi, teman-teman datang ke rumah untuk meminta paksa mama dan papa untuk memperbolehkan aku mengikutinya. Wal hasil, aku diperbolehkan, dengan segala konsekuensi aku tanggung sendiri. Termasuk ketika DIKLAT usai dan aku harus mencuci semua peralatan dan perlengkapan DIKLAT tanpa bantuan, juga tidak dijemput di sekolah seperti teman-temanku yang lain…

Hehe, aku juga masih ingat ketika banyak mata memandangku yang bau tanah naik angkot dari Surabaya ke Sidoarjo. Malu??? Kayanya waktu itu, urat maluku sudah putus karena terganti dengan rasa bangga dalam hati… Hehe…

Setelah DIKLAT itu, aku jadi sering naik gunung dan wall and rock climbing, tapi aku gak sempat ikut arung jeram ke kendal payak. Aku gak dapat ijin, lagian nilaiku pas lagi jeblok.. Hehe.. Aku juga jadi sering jadi official team-nya temen-temen yang ikutan lomba wall climbing. Makanya, aku juga kenal ma yang namanya Galar, juara Speed Internasional (Tahunnya aku lupa), meskipun kami tidak satu sekolah.

Aku sangat suka outdoor activity, terutama hiking. Pas kuliah, hobyku ini tersalurkan juga meskipun gak full kaya pas SMA. Aku beberapa kali ikutan outbond BEM ataupun himpunan, aku juga pernah mengikuti DIKLATSAR Pandu, dan TIM SAR Kepanduan DPD Kabupaten Bandung.

Tapi sekarang, setelah menikah dan apalagi jadi ibu, aku belum pernah melakukannya lagi. Apalagi suamiku kurang bisa menikmati kegiatan kealambebasan ini. Aku kangen. Aku pengen bisa lagi naik gunung seperti yang dulu. Apalagi sama Prili. Sahabatku itu yang sangat mengerti aku. Wakakakak… Hush…

Yah… Mungkin nanti, kapan-kapan kalau Allah mengijinkan kami bertemu dalam suasana yang sama, untuk mentadabburi ni’mat-Nya dengan berjalan di alam bebas bersama keluarga kami masing-masing. Semoga. Semoga hati dan pikiran kami sama, seperti dulu. Bisa kompak! I Miss U, Pril!