Bukan di Negeri Atas Awan

Aku mengenal sosoknya tepat 2 tahun lalu. Ketika aku menginjak tanah Borneo tepatnya di kota Bontang ini. Beliau seorang ibu dari 3 orang anak. 2 Laki-laki dan 1 perempuan. Ibu ini dari suku Banjar, asli Kalimantan. Tidak ada yang terlalu mencolok dari penampilannya. Berkulit putih, bertubuh pendek (lebih tinggi aku sekitar 7 centi), dan agak sedikit gemuk. Orangnya lincah, sangat bersahabat, sederhana, rapi, dan cantik. Sikap sosialnya sangat tinggi, jiwa bisnisnya bergejolak tak lekang dimakan usia, ibadahnya seperti rahib yang haus akan cinta-Nya, mulutnya hanya digunakan sewajarnya, tidak pernah menggunjing, apalagi mencaci maki orang, dan hatinya yang luhur senantiasa mencoba meniru sang pemberi qudwah terbaik di dunia, Rasulullah Muhammad saw.

Aku memanggilnya Bu Suriansyah. Aku baru tahu namanya Norjenah, saat beliau dicalegkan oleh salah satu partai yang sangat mengutamakan kaderisasi bagi anggotanya. Apalagi kalau bukan Partai Keren Sekali.

Yah, semua orang yang mengenalnya, tidak pernah sekalipun mengeluhkan sifatnya. Semua berkata bahwa beliau orang yang sangat baik. Disini aku coba untuk sedikit menuliskan beberapa kebaikannya.

Saat aku tinggal serumah dengan beliau (ngekos), beliau sering sekali mengirimkan makanan untuk kami. Pun ketika kami beberapa kali menyelenggarakan acara sederhana, tak pernah terlewat sekalipun olehnya untuk memberikan camilan untuk tamu kami. Belum lagi ajakan-ajakannya dalam bersosial di lingkungan kami. Mulai mengajak arisan RT, pengajian RT, pengajian anatomi Al-Qur’an, sampai pengajian di masjid Daarus Salaam setiap hari Jum’at siang sampai menjelang Ashar. Padahal, aku dan beliau sendiri sudah mengikuti halaqoh yang diadakan tiap pekan.

Juga pernah suatu kali, anakku harus opname di RS. Beliau tak segan-segan untuk menjenguk dan menawarkan bantuan untuk bergantian menjaga anakku. Tapi aku menolaknya, karena beliau juga punya keluarga. Lagian, saat itu aku belum bekerja jadi aku masih bisa menjaganya 24 jam. Meski sudah aku tolak, beliau tetap saja tiap hari datang menjenguk dan membawakan camilan untukku dan juga untuk suamiku. Karena saat itu, anakku belum boleh makan makanan pendamping ASI. Tak pernah absen seharipun, meskipun cuma 5 atau 10 menit. Kalah ya, sama keluarga sendiri? Mungkin kadang, keluarga kita capek untuk menjenguk kita atau anak kita setiap hari.

Ketika aku mulai bekerja, dan aku belum mendapatkan khadimat untuk menjaga anakku, beliau tak segan mengulurkan tangannya untuk mengasuh anakku. Padahal, saat jam 12 istirahat siang, aku tidak boleh keluar dari sekolah, aku mengajar di SDIT yang menerapkan sistem Full Dday School. Jadi full dari pagi sampai sore, beliau mengasuh anakku. Tidak lama, sekitar satu minggu, tapi bagiku itu sangat berkesan sekali. Padahal, aku bukan keluarganya, bukan pula orang yang telah lama dikenalnya.

Belum lagi saat keluarga itu (1 keluarga penuh + nenek) pergi umrah ke tanah suci sebulan penuh selama Ramadhan, beliau mempersilahkan saja kepada kami untuk meminjam mobilnya. Bayangkan! Sebulan penuh kami dipinjami. Tanpa menarik harga, apalagi menaruh curiga sedikitpun. Padahal, siapa kami? Sekali lagi, kami bukan siapa-siapa mereka.

Beliau juga sangat ulet dalam berbisnis. Bisa melihat peluang yang ada. Sedikit demi sedikit, bisnis yang dimilikinya mulai berkembang. Amplang, souvenir, pulsa, kamar kos, persewaan rumah, dan terakhir adalah toko buah. Berkali-kali kami tahu dengan mata kepala sendiri melihat beliau didzalimi rekan bisnisnya, tapi beliau tidak pernah sedikitpun menaruh dendam. Beliau selalu berkata, “Kalau memang rezeki kita, tidak akan tertukar dengan orang lain. Semua sudah diatur sama Allah.” Sembari tersenyum sangat manis. Suatu kali pernah aku tanya, apakah beliau tidak punya rasa kecewa. Tapi kata beliau, buat apa kecewa karena dunia, bikin penyakit ajha. Biar Allah yang membalas semua apa yang sudah kita lakukan di dunia.

Hidupnya seperti sangat enjoy. Anaknya pun tidak ada yang bermasalah, semua penurut, semua memiliki otak yang sangat encer, dan semua taat beribadah. Tidak pernah terjadi pertengkaran sekecil apapun antara kakak beradik tersebut. Semua akur. Tidak pernah terdengar teriakan dalam rumahnya. Semua indah, damai, dan sejuk.

Pernah ada seseorang yang bercerita kepadaku, bahwa dia ditolong oleh keluarga itu mulai dari mereka hidup di Bontang sampai sekarang. 10 tahun lamanya. Diberi tempat tinggal, diberi pekerjaan (menjadi penjual buah), asal mau merawat rumah yang ditempati sekaligus sebagai tempat usaha tersebut. Dia bilang, “tidak pernah ibu curiga jika pendapatan bulan ini lebih sedikit dibandingkan dengan bulan lalu. Yang ada hanya ucapan Alhamdulillah dari mulut ibu.” Subhanallah…

Ada juga orang yang pernah ditolong beliau dengan memberi ruang untuk berjualan tanpa menarik uang sewa sedikitpun. Mereka ini tidak 1 atau 2 orang. Tapi beberapa orang telah “menikmati pertolongan” dari beliau. Penjual molen, penjual bakpao, penjual karpet, penjual durian, penjual keripik singkong, penjual es dawet, dan terakhir penjual siomay dan ketupat sayur. Padahal di Bontang ini, dengan menyewakan sedikit saja tanah untuk mereka berjualan itu, bisa dapat 300 ribu tiap bulan. Kalikan saja dengan 12 bulan dan 10 tahun. 36.000.000!!! Angka yang tidak bisa dianggap sedikit. Itu kalau 1 orang yang menyewa. Kalau 2, bagaimana? Tentu akan berlipat lagi.

Mengenalnya, adalah suatu anugerah. Mengenalnya, adalah sebuah pelajaran hidup. Mengenalnya, adalah kenangan yang sangat indah dalam sebuah episode kehidupanku. Untuk belajar bersabar, mendidik anak, menyenangkan suami, berbisnis, dan terlebih adalah untuk mencintai-Nya. Beliau punya cara yang unik dalam menyikapi hidup dan kehidupan ini. Baliau adalah mama kedua-ku.

Beliau cuma seorang manusia biasa yang menjadi sangat luar biasa karena keluhuran sifat dan sikapnya. Bagai negeri diatas awan rasanya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, serta melapangkan kehidupan di dunia dan akhirat bagi keluarga itu. Terutama kepada ibu. Amiin…

Leave a Reply