Masak Ala Ummu Fauzan

Satu hal yang tidak pernah diajarkan mamaku ketika aku masih gadis adalah memasak. Yup… Untuk pekerjaan yang satu ini, paling aku hanya disuruh kupas bawang atau nyuci sayur. Gak pernah dikasih resep makanan tertentu apalagi tips-tips dalam memasak. Jangankan aku yang anak ragil dan agak sedikit kelaki-lakian, 2 orang kakak perempuanku juga tidak pernah sedikitpun diajarkan memasak oleh mama. Padahal masakan mamaku sangat enak meski tanpa MSG dan semacamnya. Mama selalu menangani sendiri semua masakannya.

Mama pernah bilang ke kakak pertamaku saat dia bertanya mengapa mama tidak pernah memberi ‘pelajaran’ memasak kepada kami. Jawaban mama, memasak adalah naluri wanita, naluri istri, dan naluri ibu. Memasak adalah dengan cinta, bukan sekedar bumbu. Itulah yang menyebabkan masakan mama terasa sangat enak untuk lidah kami.

Yah, selama 3 tahun menikah ini, aku masih sering buka buku resep, masih sering telpon ibu mertua dan atau nanya ke adik ipar soal bumbu dari masakan yang aku masak. Misalnya, aku suka sekali bakwan jagung. Kata adik ipar bumbunya bawang putih, bawang merah, kunci, setelah dihaluskan dengan jagung, campur dengan telur dan tambahi sedikit tepung terigu. Maklum, jagung disini jagung manis, tidak ada jagung biasa. Dan jenis jagung manis itu banyak sekali mengandung air, sehingga kalau diuleg atau dihaluskan, akan menghasilkan air yang cukup banyak, jadi perlu tepung untuk mengurangi kadar air dan merekatkan adonan bakwan jagung. Tapi kalau aku, kutambahi bumbunya dengan cabai besar dibuang bijinya agar tidak pedas, dihaluskan bareng bawang, dan campur dengan sedikit daung bawang dan seledri agar tambah harum.

Memasak adalah caraku memberikan cinta kepada keluarga kecilku ini. Menu yang aku sajikan gak terlalu ribet seperti yang ada di tipi-tipi. Kadang, kalau Hari Sabtu Ahad, baru aku masak yang agak ribet kaya rawon, sup sehat lengkap, makanan itali (spaghetti dan kawan-kawan), ayam bakar, ikan bakar, sayur krecek, atau lodeh, dan lain-lain.

Aku pun gak selalu sukses dalam memasak. Kadang terlalu asin (yang paling sering), aneh rasanya (biasanya kalo kehabisan bumbu), atau terlalu pedas (suami tidak suka masakan pedas). Namun, aku tidak pernah kapok untuk memasak dan mencoba terus belajar memasak. Suamiku pun sangat suka dengan masakanku. Kalau ada yang tidak pas, dia menyindirnya dengan baik. Tidak menyakiti, ataupun menghakimi.

Anakku Fauzan yang belum bisa menikmati betul masakanku. Karena giginya banyak yang belum tumbuh, sehingga dia baru bisa makan makanan tertentu. Yang sangat simpel dan mudah untuk dilakukan.

Leave a Reply